rest in peace

Saya senyum-senyum sendiri saat menerima komen dari mas Ali Munir, ga enak nih disentil ma seleb blog :p . Matur nuwun Mas atas kepedulian jenengan. Saya sering lo lewat Kalimulyo, kan cuma 15 menitan dari Sekararum, Sumber. Banyak alasan kenapa saya istirahat ngeblog. Tapi yang jelas dan jadi alasan utama sih karena koneksi internet. Yah mungkin bisa dibilang sombong sih, kalo dihitung, setiap hari  saya bisa memakai 3 koneksi internet. Pakai jardiknas di kantor, kalo macet pakai schoolnet, sampai di rumah pakai tel****** flash. Harusnya kan lancar jaya ya? Mmm ga juga. Karena ketiga-tiganya sudah menguji di luar batas waktu saya yang tersedia buat ngenet. Saya sering mutung dengan kualitas koneksinya. Daripada waktu terbuang buat nunggu yang ga jelas, lebih baik saya memperkaya materi atau buat presentasi mengajar di kantor, atau ngurus rumah plus penghuninya  sepulang dari kantor. Jadi, walopun istirahat ngeblog, alhamdulillah saya masih “damai” kok.

Yang RIP kedua adalah seorang sahabat saya, Faizin, yang beristri Eka Dewi Solekhah, dan berputra Brilian Pratama Putra. Bapak-Ibu dari Billy ini dua-duanya satu angkatan saya dulu waktu kuliah. Yang perlu saya tulis adalah, saat saya melongok liang kuburnya, sebelum ditutup kembali dengan tanah, adalah wajahnya yang khas Faiz, ceria. Ada seulas senyum di wajah yang sudah menghadap kiblat tersebut. Insya Allah khusnul khotimah walau meninggal dalam deraan sakit parah. Banyak sekali yang tertinggal dari Faizin dalam hidup saya. Ini salah satunya:

4788_97927812366_829067366_1927170_2987202_n

Alm.Faiz di sebelah suami saya

Dalam kenangan saya, Faiz selalu celelekan. Ditambah postur tubuhnya yang chubby dan sipit, kesan ceria selalu nampak di wajahnya. Terakhir saya ketemu waktu menikah dengan Eka.

nikahniye

Dua tahun lebih tak bersua, kemarin Kamis, 24 September 2009, saya menyempatkan mampir di rumahnya. Ini nih yang membuat kami kagum pada kerja kerasnya. Faiz sudah membangun rumah yang sekarang dijadikan toko swalayan. Walaupun niat pingin kenalin Radya ma Billy ga tercapai, karena Billy di rumah Mbah nya, Alhamdulillah masih bisa bertukar cerita dengan Faiz. Kami bertanya tentang perubahan fisiknya. Sambil menyindir  mau ada tamu istimewa kok ga dandan gitu. Karena dia tampak kurus,kulit dekil dan rambut kering. Barulah dia cerita tentang sakitnya. Awal puasa lalu, Faiz dirawat di rumah sakit. Dan dia juga baru tahu kalau selama ini, yang dikiranya sakit maag dan pusing biasa, adalah gejala gagal ginjal. Menurut dokternya, ginjalnya justru makin memburuk dengan antasida dan paracetamol. Seharusnya Faiz menjalani cuci darah, tapi dia berniat mau menjalani pengobatan alternatif dulu. Saya pun ga terlalu care dengan cerita penyakitnya ini. Karena kami masih bisa melihat semangat hidupnya yang tinggi. Cerita berlanjut ke cita-cita. Terungkap Faiz ingin Billy seperti Prabowo, jendral yang kaya dan berkuasa. Amin. Waktu pamit, Radya mau salim dengan Faiz dan didoakan “Barakallaah” . Amin ya Allah.

Bagai petir di siang hari, Minggu, 27 September, jam 12 siang. HP saya berbunyi dan terdengar isak tangis Tria Erlina teman kuliah juga sahabat karib Eka. “Mbak, cepet ke Pati. Faiz meninggal” Innalillaahi wa inna ialihi raji’un. Setelah saya cek hp saya lainnya, memang benar Eka telah sms saya. Untung posisi saya sudah di rumah mertua. Radya saya titipkan ke simbah, dan kami pun segera ke Cengkalsewu, Sukolilo. Sampai disana jenazah mau dishalatkan. Suami saya masih bisa mengikutinya. Sementara saya di dalam rumah memeluk dan mendengar cerita Eka. Saya berusaha keras menahan tangis. Karena yang berulang kali saya katakan pada Eka adalah, ikhlas, kuat, dan jaga amanah Faiz, yaitu anaknya. Saat adat brobosan, Billy tertawa riang karena mungkin dikiranya diajak bermain. Bahkan saya pun menemani Eka sampai jenazah dikuburkan dan tak banyak tangis yang terurai.

Tapi benteng saya jebol saat mencium putranya yang sedang terlelap. Saya teringat Radya, saya jadi merasakan beban Eka, begitu juga Billy yang harus menghadapi dunia berdua dengan ibu nya saja. Bahkan mungkin saya lah yang membuat Eka meraung saat saya pamit pulang. Hmm…sampai disini saja ceritanya. Ga sanggup nulis lagi.

~ oleh bune radya di/pada 3 Oktober 2009.

4 Tanggapan to “rest in peace”

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Turut berduka cita atas dipanggilnya sahabat terbaik. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah dan diberikan maqom yang terbaik. Kematian adalah suatu kepastian yang tidak akan kita ketahuan kapan waktunya.
    Btw, saya juga beberapa kali lewat sekararum; ke Payaman! Paling tidak sampai Sumberarum atau pasar ngulakan.

  2. ealah mas…di tempat saya selalu aman. karena saya nyantai punya blog, ga bnyk serangan. amin atas doa jenengan. mas, dari payaman msh 5km an lagi ke timur. rumah mertua saya di kab.rembang lo. dusun sekararum, desa sekarsari, kecamatan sumber. kpn2 silaturahim ya!

  3. Iya Nis, aku juga kaget banget waktu di-sms Tria…. Sama kayak waktu di-sms Nuning tentang Yuria. Ga percaya rasanya, apalagi karena posisiku jauh, bagiku mereka sepertinya masih hidup dan baik2 aja. They’re so young,full of spirit, but I guess God love them more…. That’s why they ‘came home’ so early…

  4. smoga almarhum dpt tempat terbaik mid. yg penting qt sm2 care ma peninggalan almarhum. sbnrnya mau moto billy jg mau nunjukin kelucuannya. tp dah ga sanggup dlu

Tinggalkan Balasan