senyum 70 di awal mei

70? hmm..liat logo ini dulu images

Di jarimatika, posisi jari tersebut pada tangan kiri bernilai 70. Saya baru tau filosofi nya setelah kemarin ikut workshop jarimatika di sela pameran buku murah di Balai Kartini Rembang. Letakkan posisi 70 di bawah mulut, dan senyumlah selebar bentangan telunjuk dan jempol anda. So, lets have fun!

Kemarin, tanggal 1 Mei 2009, finally…saya terima SK CPNS saya di pendopo Kabupaten Rembang. Lima bulan setelah pengumumannya di akhir Desember tahun lalu. Dan tiga bulan setelah saya jadi GTT di SMK 1 Rembang. Penempatan saya pun di sekolah yang sama. Seperti skenario ya? Penempatan kok ada latihan  adaptasinya. Ya emang ada skenario nya. Dari para pemimpin sekolah ini, juga dari Allah pastinya. Allah seakan menjawab ketakutan saya dulu. Tentang Radya, tentang tantangan pekerjaan di depan. Dengan diajak melihat dengan santai seperti apa pekerjaan saya nanti, paling ngga saya bisa sedikit merencanakan langkah ke depan saya. Saya perlu menyatakan diri saya adalah CPNS terlemah sehingga mendapat kesempatan menjadi GTT sekaligus ditempatkan di sekolah yang sama. Kenapa? karena yang lebih kuat lah yang kan ditempatkan nun jauh di pelosok Rembang sana. Saya jelas ga sanggup. Sekedar menerima amanah seperti ini, saya harus banyak ngeluh, banyak nangis, mewek2 ga jelas. Makanya..please…rekan2 CPNS dari tenaga kependidikan, kita legawa aja yuk…. Dulu kan sudah berhasil mengalahkan 5400 pesaing, konsekuensi jadi pemenang ya harus diambil juga. Dari awal ndaftar pun saya sudah memprediksi piala seperti apa yang akan saya raih. Makanya saya pilih jadi guru SMK, karena bisa diprediksi akan dapat piala yang mana, karena saya sadar wilayah Rembang yang 14 kecamatan ini begitu luas. Saya jelas ga sanggup jika sampai dapat piala di puncak gunung sana. Temen2 sudah tahu kan kira-kira seperti apa sebelumnya?

Sore harinya, saya ikutan workshop jarimatika. Suer ga ada motif nyari sertifikat. Hanya ingin mengembangkan kemampuan diri demi putra tersayang. Juga pingin ketemu, kalo bisa foto bareng sama Bu Septi Peni yang saya kagumi sejak masuk jadi 10 yang mengubah Indonesia versi majalah Tempo. Ternyata Bu Septi diwakilkan :( Ga papa deh, kan niatnya cari ilmu to. Jadi senyum-senyum sendiri pas di meja registrasi ulang. Para peserta, yang saya  perhatikan rata-rata berprofesi guru, ribet ngurusin identitas yang akan dicetak di sertifikat nanti. Hmm…padahal begitu saya masuk ruangan workshop, yang terakhir lo karena ga mau desak2an di meja registrasi, ternyata kursi depan kosong semua. Tipikal orang Indo :( Jangan salahin muridnya ya kalo waktu diajar mereka lebih suka duduk di belakang. Yang digugu dan ditiru kayak gitu sih.

Di hari pendidikan, saya sowan ke Kepala Sekolah, ngaturke SK yang sudah saya dapat. Saya sendiri ga sadar jika hari itu hari kebesaran kami sebagai guru. Ada tumpengan pun saya juga ga tahu. Akhirnya jadi tamu undangan mendadak hari itu. Alhamdulillah juga, dengan momen tumpengan tersebut, saya pun langsung mendapat kesempatan memperkenalkan diri. Bagus lah, saya kan bukan guru pelajaran normatif, ntar kan jarang ke kantor, ngendon di bengkel terus. Kalau ga dapet momen ini kapan lagi saya bisa kenalan ke semua guru? Pak Maksum sebagai Kepsek dalam sambutannya banyak memotivasi para guru. Sempat nyindir saya yang senyumnya makin lebar aja sesudah dapat SK. He..he..insya Allah Pak! This is my start point, I ll do my best!

Lagi-lagi di kantor liat contoh tingkah guru yang aneh. Masak di kantor, beberapa guru laki-laki tukeran pic cewek dari hp. Omaigat… Kenapa hp punya siswa harus dirazia ya? Hp saya? Mmm…Insya Allah cuma ada pic nya Radya. Fungsinya sama lo dengan pic para cewek itu, membuat mata melek dan membayangkan yang indah dengan melihat pic nya Radya. Itupun sebagian besar sudah saya upload di picasa. Huhf… naudzubillah deh… Guru, digugu dan ditiru. Inget Nisa!!

Ngobrolin guru, sebenarnya saya juga bukan orang yang asing dengan profesi tersebut. Karena Bapak dan Ibu saya juga guru. Ngobrolin sertifikasi, Bapak saya juga sedang menyusun portofolio. Tetapi jelas beda dengan fenomena guru lain yang begitu ngejar sertifikat. Bulan Maret lalu saat saya di Solo, bantuin Bapak ngumpulin sertifikat dari tahun 1980an, ternyata banyak banget sertifikat Bapak, sampai harus disortir mana yang lebih penting. Kata Bapak, jaman dulu jarang banget ada guru yang mau ikutan seminar dan sebagainya. Baik yang bayar sendiri ataupun dibayari. Rata2 pada males. Eh begitu sekarang sertifikat laku, jadi demam sertifkasi deh. Hmm…semoga aja itu memang berarti semangat belajar para guru memang meningkat.

Wah, panjang banget ni, besok lagi aja diterusin ngobrolin guru. Yang jelas, awal Mei ini benar-benar awal yang indah buat saya. God help me to be a good teacher.


~ oleh bune radya di/pada 7 Mei 2009.

4 Tanggapan to “senyum 70 di awal mei”

  1. Ternyata gak cuma mahasiswa yang doyan sertifikat ya, kemarin ikut tes toefl juga buat formalitas persyaratan dapat bagus tapi hanya berlaku sampai lulus. hehehehe, selamat datang di dunia pendidikan

  2. yup. jadi salah satu saksi saya ya kalo sebagai guru saya jadi melenceng dari cita semula. ga pa pa kok ngejar sertifikat, waktu kuliah dulu saya juga gila ikut seminar2. tapi saya akan salut jika memang sertifikat itu bukan cuma selembar kertas tanpa kemampuan sesuai yang tertera disitu. Gud Lak to u too

  3. Wah..gurune sopo kie sing tuker-tukeran pic cew???

    koq aku gag di bagi sich??
    wkwkwkwkw

  4. @ shinichi, katanya i love him…kok masih nyari pic cewek to dik? wkwkwk

Tinggalkan Balasan