Membaca Sastra Lama

Jengah dengan novel-novel teenlit ataupun novel yang populer sekarang ini,saya beralih membaca novel-novel lama. Sebelumnya saya ga kepikiran sama sekali dimana akan mendapatkannya. Saya benar-benar ingin membaca karya-karya sastra yang sebelumnya hanya saya dengar dan hafal judulnya saat pelajaran Bahasa Indonesia dulu waktu sekolah. Para pengarangnya pung mungkin sudah meninggal.
Lalu saya baru sadar, kan ada perpustakaan. Suami saya pun geli,karena perpustakaan daerah Rembang masih satu kantor dengannya,meskipun beda seksi. Jadi saya bisa bebas pinjam dan baca tanpa kartu anggota,hanya dengan jaminan namanya. Kok ga kepikiran sebelumnya ya. So, ga sabar saya pingin lihat koleksi perpusda.
Sekilas menjelajahi rak-rak perpusda, novel-novel yang saya maksud ternyata ada. Meskipun sudah bulukan,cover sobek, atau sudah buram tak terbaca lagi judulnya, halaman masih lengkap. Masih layak baca lah.Walaupun diantara deretan buku itu tersimpan rasa aneh. Saya menemukan novel-novelnya Fredi.S dan Eny Arrow. Saya sih ga pernah dan ga minat baca, tapi dari covernya kan bisa diduga kayak apa isinya. Kok bisa masuk koleksi Perpustakaan Daerah sih? Punya pemerintah gitu lo?
Sampai saat ini saya sudah membaca Para Priyayi (Umar Kayam), Ikan Hiu, Ido, Homa juga Lusi Lindri(YB Mangun). Yang lebih lama lagi, Dian yang Tak Kunjung Padam, Salah Asuhan, dan Layar Terkembang. Aduh, bacanya perlu mengerutkan kening karena bahasanya yang jadul banget. Tapi, puas deh, serasa sekalian belajar sejarah. Review pribadi saya di posting lain kali aja deh. Mau ndulang Radya ni :p

~ oleh bune radya di/pada 12 September 2008.

Tinggalkan Balasan