Metafora untuk Sahabat
Insya Allah tanggal 22 Juni 2008, seorang sahabat lama saya, Mas Wahid, (ato lengkapnya Ahmat Nurwakit he…he… ) akan melangsungkan resepsi pernikahan di rumahnya di Ngawi. Besar sekali keinginan saya untuk menghadirinya. Karena tersandung oleh berbagai alasan kuat, pupus sudah keinginan saya menjadi saksi pernikahannya.
Teringat betapa sering dulu kami “berantem” lewat kata-kata. Waktu Mas Wahid nelpon saya memberitahukan kabar bahagianya ini, ternyata dia masih ingat betapa parahnya saya yang suka nyindir dan ngejek dia. Belum lagi kalau debat saya pasti ngeyel duluan, ga peduli salah atau betul.
He..he..bukan salah saya mas, jenengan saja yang kurang sabar meladeni saya. Lagipula saya sering sebal dengan tingkahnya yang kadang ‘menipu’. Seperti saat dia cerita ibunya meninggal, otomatis simpati terdalam yang saya berikan padanya yang telah menjadi piatu. Eh, ternyata itu ‘ibu-ibuan’, maksudnya sosok lain yang juga dianggap ibu sendiri. Bukannya meremehkan kedudukan sang ibu yang meninggal, cuma kok ya kesannya tuh bener-bener dia menjadi piatu. Jadinya, kebablasen simpati saya to ya! Ada juga gosip dia sudah menikah sebelum saya nikah, tapi saya dah kebal dengan tingkahnya. Saya no comment sampai akhirnya terdengarlah pemberitahuan resmi ini.
Sekarang saya agak malu kalau terlalu bersemangat seperti dulu dalam mengobrak-abrik perasaan Mas Wahid, lebih tepatnya malu sama istrinya sebenarnya. Bukan berarti semangat nyindir saya luntur. Saya kebetulan ingin menjual karya seni paman saya, Lik Margono, lewat internet. Dan saya pikir karya seninya itu cukup mewakili sindiran saya padanya. Jadi tak perlu sindiran berbusa-busa untuk membuatnya jengkel, cukup sebuah metafora yang diambil dari mahakarya leluhur kita, wayang. Karya seni tersebut adalah ukiran wayang dari kayu jati berdimensi 33×38x3 cm berkarakter Semar. Lebih jelasnya bisa lihat di foto. Untuk mas Wahid bolehlah gratis, karena saya memberikannya sebagai kado. Untuk yang lain yang berminat, silahkan SMS saya untuk konfirmasi harga ![]()
Makna dari metafora yang saya maksudkan tidaklah jauh dari karakter Semar yang dibangun dalam cerita Bharatayudha. Singkatnya saya ingin Mas Wahid menjadi Sang Pamomong, tak hanya bagi para keturunan Dewa, tapi juga untuk semua orang yang perlu kehadirannya, terutama untuk keluarga yang telah dibangunnya kini, walaupun dia ga lebih cakep dari Semar
. Jo nesu Mas!! Silahkan pajang di ruang tamu jenengan dan ingat metafora dari adikmu yang mbeling ini ya.
Eh ya, kalau belum terlalu ngeh dengan Semar, ini nih cerita yang berhasil saya kumpulkan.
Semar (Batara Ismaya)
Semar (Betara Ismaya) adalah seorang Dewa, saudara Betara Manikmaya (Guru) anak Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal menganggap Semar lah yang tua dan diramalkan tak akan dapat bergaul dengan para Dewa. Lalu dititahkan tinggal di dunia ini untuk mengasuh keturunan Dewa-Dewa yang bersifat manusia. Setelah Semar tinggal di Marcapada (dunia) berubahlah keelokan parasnya menjadi orang yang sangat jelek. Segala tanda-tanda kejelekan pada badan manusia terdapat pada Semar, hingga Semar terpandang sebagai orang yang biasa saja. Semar lalu mengikuti dan menjaga keturunan Dewa yang berdarah Pandawa.
Semar seorang yang bersifat sabar, pengasih sayang, tak pernah susah. Tetapi pada waktu marah, tak seorang pun dapat mencegahnya. Dewa-dewa pun dianggapnya di bawah telapak kakinya. Tanda-tanda waktu marah, dari mata bercucuran air mata, ingus mengalir dengan deras, dan angin keluar tak henti-hentinya, sambil berteriak-teriak kepada Dewa minta kembali kebagusan rupanya.
Semar selalu merendahkan diri pada anak-anak asuhannya dan dengan bahasa lembut sebagai hamba pada tuannya. Tetapi jika bergaul dengan para Dewa ia bersikap sebagai teman sejawatnya.
Istri Semar adalah Dewi Kanastren, mempunyai sepuluh orang anak dan semuanya Dewa. Semar sebagai lambang orang yang suka mengetahui kejiwaan manusia sebenar-benarnya. Dan oleh orang Jawa sering disebut sebagai Sang Pamomong. (disadur dari Sedjarah Wajang Purwa, R. Hardjowirogo, Balai Pustaka Jakarta 1952)




Jika rasamu tak lagi bicara
jiwamu tak lagi berharap
maka gravitasimu tidak lagi punya nilai
Rachmat Gilang Geni
(Titip salam untuk pecinta Sang Pamomong)