Kado Ultah Nikah dari Allah

Insya Allah tanggal 2 Juli 2008 nanti tepat dua tahun usia pernikahan kami. Begitu banyak yang kami lewati berdua, namun begitu sedikit ilmu untuk menyerap hikmah dalam setiap kejadian. Seakan-akan ilmu kami tiada pernah cukup untuk menghadapi persoalan-persoalan rumah tangga.

Sebuah kado istimewa dari Allah kami terima menjelang ulang tahun pernikahan kami ini. Kami diingatkan kembali konsep halal dan thayib. Soal makanan dan uang sebisa mungkin kami hati-hati. Bukan sekali-dua kali kami hanya menelan ludah ketika makanan yang kami idamkan untuk dicicipi tak mengindahkan aturan Allah. Juga bukan hal yang aneh lagi kami berlama-lama mencari tanda halal MUI di kemasan saat membeli produk tertentu. Ternyata masih ada hal lain yang luput dari perhatian kami. Sebagai orang yang setiap harinya bersentuhan dengan software dan hardware komputer, kami tak pernah lepas dari ancaman pemakaian software ilegal. Maksud saya adalah software berbayar yang tidak kami miliki lisensimya. Ya bagaimana lagi, sejak berkenalan dengan komputer, kami terbiasa memakai software-software yang kemudian hari baru kami sadari kami tidak berhak memanfaatkannya. Oleh karena itu sedikit-sedikit kami merubah pola pemakaian software ini. Sistem operasi yang open source dan perkembangannya yang pesat sudah cukup membantu niat kami ini. Lambang jendela berkibar di pojok desktop sudah lama berganti lambang lingkaran manusia bergandeng yang salah satunya mengacungkan jari.

Yang masih diluar perhitungan adalah file musik dan file hasil seni lain yang didownload bebas di internet. Ternyata kami masih memakai, bahkan berulang kali menggandakannya ke gadget lain. Setelah kami mendapat “kado” ini, kami segera teringat dan segera menghapus lagu-lagu yang kami sukai, termasuk bossanova jawa yang belum sempat kami beli cdnya.

Ihwal dari kado ini adalah sebuah kenang-kenangan pernikahan kami dulu. Undangan pernikahan yang kami desain sendiri. Dengan konsep imut, cantik dan sederhana jadilah sebuah undangan ukuran 16×32 cm warna magenta dengan siluet Rama-Sinta didalamnya. Kami dibantu oleh Perdana Adi Nugroho, teman kami yang jago desain. Saat kami mendesain undangan tersebut, dia baru terkena musibah gempa bumi. Rumahnya di Klaten, dan saat gempa terjadi kerusakan di daerahnya cukup parah. Karena ga bisa sekali jadi, juga karena kami bersimpati dengan duka yang menyelimutinya, selanjutnya hubungan lewat email secara intensif kami lakukan hingga akhirnya masuk percetakan 2 minggu sebelum hari H dengan harga 600 rupiah per lembarnya, serba mepet sesuai anggaran bapak saya. Bagi kami, meskipun undangan itu tidaklah glamour, bahkan dicela adik saya sendiri, tetap saja undangan itu sesuatu yang istimewa dan sangat berarti bagi kami.

Hampir dua tahun berlalu sejak undangan itu tersebar di Solo, Jogja, Rembang, Madiun, dan kota-kota lain tempat relasi kami tinggal. Sebuah kejutan datang dari seorang teman STM suami saya yang akan melakukan pernikahan tanggal 31 Mei 2008. Desain undangan itu mampir lagi ke tangan kami dengan warna merah bata, font arial bold (padahal aslinya kami pakai font infinity), bahasa jawa krama inggil (kami tidak berani menggunakannya karena yang kami undang bukan orang jawa saja), dan huruf-huruf bertebaran menerjang mahkota Rama yang dulu dengan seksama di sket oleh Perdana. Lama sekali saya menatap undangan tersebut yang dibawa suami saya sepulang dari kantor. Kenangan akan susah-payah kami mempertahankan idealisme saat mendesainnya jadi berkelebatan di benak saya. Di kesempatan berikutnya pun saya tidak bisa sebentar saja memandanginya. Rasa sakit di hati perlahan muncul dan makin menusuk di hati. Tega nian pembajak undangan kami ini. Bahkan nama Perdana dan nomer HP yang dicantumkan di undangan asli, dengan maksud agar orang yang tertarik menghubunginya, dengan teganya dihapus untuk menghilangkan jejak. Andai saja sang pembajak masih punya hati tidak menghapus namanya, mungkin kami tidak sesakit ini, Kami anggap dia masih menghargai karya orang lain, karena bukan materi yang kami jadikan ukuran.

Saat itu ingin sekali saya menunjukkan undangan asli ke teman saya dengan menyelipkannya di kado untuk mereka. Tapi mengingat dia teman baik, saya ga tega merusak hari bahagia mereka. Toh bukan dia dalang pembajakan ini, Dan mungkin bukan dia saja yang memakai desain ini, sudah dua tahun gitu lo! Nanti saja saat mereka berkesempatan bertandang ke rumah kami, insya Allah akan kami sebarkan konsep halal dalam karya ini. Tentu dengan hati-hati agar kami tak dianggap sok kuasa sebagai pemegang hak cipta desain itu.

Begitulah, saya jadi teringat para artis yang ga rela dan berjuang agar karyanya tidak dibajak. Apalagi bagi mereka yang karyanya mempunyai nilai komersial. Pasti sakit hatinya melebihi yang kami rasakan saat ini. Kemudian ketika kami berdua berbincang, saya ungkapkan sakit hati yang saya derita. dan saya mohon pada suamiku agar semua file yang bajakan dihapus dari kehidupan kami. Karena bajakan tiada lain tiada bukan barang haram juga. Kami rela tiada lagi lantunan irama bosas dengan syair campursari yang sering mengalun menentramkan perasaan terdengar di rumah kami, tapi kami pun berharap tiada lagi rasa sakit di hati seperti ini.

Kami bersyukur ya Allah, Kau ingatkan kami di momen yang tepat. Kami mohon maaf bagi para artis yang karyanya sempat kami nikmati tanpa membayar royalti pada mereka. Semoga Allah memberi pahala yang setimpal pada anda semua. Pada Perdana, kami doakan Allah selalu memberkahi dan melindungimu. Dan pada para pembajak, juga para penikmat bajakan, stop penggunaan barang haram di kehidupan kita. Sakit lo rasanya dibajak!

~ oleh bune radya di/pada 7 Juni 2008.

Tinggalkan Balasan