Sepotong Daging
Ada sepotong daging dalam tubuh kita. Kecil dan banyak gunanya. Letaknya tersembunyi agar tidak merusak keindahan wajah kita. sepotong daging itu adalah lidah.
Kala kita ingin bicara, lidah membantu artikulasi mulut kita agar jelas apa yang kita maksud. Maaf, anda pasti pernah menenmui orang yang lidahnya ukurannya tidak memadai dan kesulitan mengungkapkan maksudnya dalam kata-kata. Bersyukurlah kita yang dianugerahi lidah yang sempurna ukurannya. Tiada hal yang sulit disampaikan ke orang lain.
Kala kita ingin makan atau minum, lidah dengan ujung-ujung syarafnya yang menyebar dari pangkal ke ujung membantu kita mengindentifikasi rasa. Manis, asam, pahit, enak dan sedap menjadi bagian dari kehidupan kita. Itulah yang membedakan kita dengan makhluk lain. Coba lihat sapi, dikasih rumput ok, dikasih dami mau, diberi tebon jagung apalagi. Atau lihat si kucing, Daging mentah suka, ikan bandeng favoritnya. Tapi kita manusia yang diberi lidah dan akal. Semua tumbuhan dan daging melewati proses yang tidak sederhana untuk masuk ke perut. Dibersihkan, dipotong, dibumbui, dan dimasak hingga matang. Menghidangkannya pun ada seni tersendiri. Bagi yang mempunyai kemampuan dan kesempatan, tak lupa garnish nan manis diselipkan untuk mengundang selera.
Tetapi ada kalanya kegunaan lidah itu berperan dalam menyakiti hati. Kata-kata yang tidak tepat diksinya, tidak empan papan, juga salah tujuan, telah banyak membuat peperangan. Mulai dari perang kecil antara anak kecil, hingga perang besar antar negara. Mungkin perang yang paling sering kita nikmati adalah perang antara suami istri selebritis di infotainment. Herannya, perang itu ternyata dianggap mengasyikkan bagi kita. Tentu saja pihak kapitalis tak segan-segan meraup keuntungan dengan mengkomersialkan peperangan itu.
Rasa yang tidak enak di lidah, tak jarang juga menyakiti hati. Sering saya menemui cerita para ibu yang sedih ketika pagi hari harus membuang nasi dan sayur hari sebelumnya. Susah payah yang dilakukan karena alasan cinta, terbuang begitu saja karena sepotong daging kecil itu. Mungkin hanya karena alasan bosan menunya tidak bervariasi, atau rasanya tidak semantap bila jajan. Apalagi dengan semakin banyaknya jajanan di sekitar kita. Ya…bukannya tidak boleh jajan, yang sebenarnya bisa jadi sumber penghidupan para pedagang. Tapi alangkah baiknya jika jajan itu direncanakan sebelumnya, agar ibu-ibu pun bisa mengurangi susah payahnya di dapur.
Rasa syukur akan tubuh kita yang sempurna kadang terlupakan. Tak heran Rasulullah menyarankan agar kita diam bila tak mampu berkata baik. Saat kita sudah berhadapan dengan makanan, hendaknya kita pun mampu memaknai doa sebelum makan yang kita ucapkan. Ya Allah berikanlah barakah atas rizqi kita dan jauhkan dari neraka. Artinya…? Setidak-enak apapun makanan yang tersaji di piring kita, insya Allah dibarakahiNya, dan bisa jadi neraka dekat dengan kita saat kita menyia-nyiakan makanan itu. Enak-tidak enak saat nasi sudah tersedia harusnya bukan masalah saat rizqi kita masih ada untuk membelinya. Bayangkan jika suatu ketika benar-benar tak ada uang untuk sekedar beli nasi. Ingat kan nasib ibu hamil yang harus mati sia-sia karena perutnya lama tak terisi.
Allah Maha Adil, juga Maha Kuasa. Segala yang telah diberiNya insya Allah tidak ada yang sia-sia. Bersyukur…manfaatkan dengan baik nikmat lidah ini. Karena hanya manusia lah yang tahu manfaat sebenarnya dari sepotong daging kecil ini.




Tinggalkan Balasan