Berani Jadi Orang Asing

Pada sebuah perbincangan, muncul keluhan suami saya. Dia diejek oleh teman-teman kantornya. Bukan karena kekurangan fisik atau kejadian memalukan. tapi karena sebuah pilihan keluarga kami. memang pertandingan bola dini hari tak lagi kami ikuti, atau wajah talent baru di dunia hiburan terlambat kami ikuti. Sejak empat bulan lalu, kami telah melakukan sebuah keputusan yang cukup telak. Kami putus hubungan dengan sebuah benda yang awalnya tak terpisahkan dari kehidupan kami. Sebuah benda yang bernama televisi lenyap dari keseharian kami.ya mungkin pilihan kami ini tidak wajar, kami bisa saja dianggap sebagai orang asing. hari gini ga punya TV?? Bukan karena tidak mampu membeli, kami hanya tidak mampu menahan godaannya saat ia masuk di kehidupan kami. Bayangkan, bangun tidur TV langsung menyala setelah lampu dimatikan. OK lah, alasannya kami mengejar berita terpagi. Setelah sarapan tersedia, teman yang paling enak adalah tayangan infotainment atau morning show yang lain. setelah itu giliran anak-anak menonton kartun. Agak siang dikit, berganti-ganti saluran untuk melihat berbagai gosip artis jadi perburuan yang mengasyikkan. Lewat tengah hari, sajian kuliner mak nyuss jadi penyegar pandangan dan penyedap selera makan siang. Sepulang sekolah anak pun tak ketinggalan ingin bertualang dan membaca surat sahabatnya. Eh agak sore, gosip artis yang lebih hot menanti disimak. Kabar politik peristiwa sehari tersaji setelahnya. Lewat petang, parade sinetron dan penyanyi berbakat akan menghibur sampai tengah malam. Hingga tak sadar Tv gantian nonton kita dan sambil terkantuk kita mematikannya dan menuju peraduan.

itulah yang akan terulang tiap harinya. Dan menurut pengamatan saya, ternyata rumah-rumah yang lain tak jauh beda. televisi begitu hebatnya menjadi sentra perhatian keluarga. Acara makan bersama dan berbincang di meja makan yang jadi favorit saya sudah terlupakan. Entah dengan keluh kesah ayah yang sibuk bekerja seharian. Cuek dengan hasil belajar anak. ga peduli dengan pusingnya ibu mencari minyak tanah yang langka. Semua jadi kurang perhatian. Uhhh, capek deh..!

Setelah berunding, kami pun sepakat meniadakan TV di dalam rumah kami. jadi kalau menginginkan melihatnya, rumah orang tua atau tetangga yang akan mempertemukan kami dengan TV.
Pertama menjalaninya, agak kikuk. Sering terbengong, mau ngapain ya? Tidak lebih dari seminggu kami bisa beradaptasi. Berita tidak harus dari televisi. Radio dan fasilitas WAP di ponsel kami aktifkan. hasilnya berita yang kami dapatkan lebih cepat diterima. Masalah gimana gambarnya bisa dilihat di koran besok, atau kalau penasaran banget baru cari TV. Ajang kirim salam atau talkshow di radio bisa memancing senyum dan tawa kami sekeluarga. Hebatnya lagi, jarang sekali penyiar radio yang mencerca dan memaki sebebas acara di TV. Semua itu bisa kami nikmati tanpa melupakan aktivitas rumah tangga yang lain. Semua bisa disambi. Saat makan bareng, tangan,mulut dan telinga bekerja. tetapi mata tidak perlu terpaku di satu benda. jadi si kecil yang merangkak kesana kemari tak luput dari pengawasan.
Kami puas menjalani hidup tanpa kehadiran TV. tak lagi jengah pada gosip yang makin ga mutu, tayangan sinetron yang menafikan moral, atau caci maki yang bebas diucapkan para komedian. kami tak lagi khawatir anak kami dekat dengan hal-hal berbahaya bagi perkembangan jiwanya. Tapi, kami pun juga tak pantas diejek ketinggalan informasi atau tidak tahu peristiwa di luar sana. kami masih up to date lo. bahkan kami bisa membanggakan diri, mungkin kami lebih luas pengetahuannya, karena kami sempat membaca buku. Jadi, asingkah kami, di dunia manakah sebenarnya kami tinggal?

Saya yakin kami tak beda dengan orang lain yang jarang nonton TV, seperti para intelektual yang sibuk belajar dan mengajar. Atau para santri di pondok yang jelas ga ada waktu untuk TV. Tapi, bicara soal kualitas, ga perlu dipungkiri, orang-orang seperti mereka nanti yang akan menggenggam dunia.
Saya tidak memungkiri jika kehadiran TV sangat penting dalam hidup kita. tapi mungkin dia akan kami lirik lagi saat para pemilik stasiun TV nasional mampu meningkatkan kualitas tayangannya. Tidak perlu mengejar rating hingga memaksa jutaan pasang mata tetap terpaku pada TV. tapi sajikan yang berkualitas hingga keberadaannya sebagai media informasi dan komunikasi yang dinamis kembali diakui.

Saat ini, siapapun anda, yang mengejek kami yang tidak punya TV, akan kami jawab dengan singkat. Jadi orang asing? Ga takut tuh!

~ oleh bune radya di/pada 4 Juni 2008.

Tinggalkan Balasan