Dulu saat saya mau melahirkan Radya, ada aja peristiwa kelahiran yang membuka mata hati saya. Seperti halnya anak yang lahir cacat, meninggal, atau malah keguguran. Peristiwa semacam itu membuat saya banyak bersyukur Radya sehat sampai saat ini. Dan mulai pada detik-detik sebelum Radya lahir, saya berdoa, apapun nanti yang diamanahkan pada saya, saya akan berusaha ikhlas. Termasuk anak yang mau lahir saat itu.
Saat ini, saya jadi “ibu” dari 36 anak di kelas KJB. Mengingat tingkah mereka semua, rasanya harus tersenyum terus. Seperti janji saya sejak melahirkan Radya dulu, apapun adanya mereka, ya saya terima, dan berusaha saya bina sesuai kapasitas saya. Banyak yang mengeluh tentang tingkah “anak-anak” saya ini. Yang cerewet, ngomongnya gaya wong “mbelah” (nelayan, berarti pake nada tinggi terus), suka mbolos, suka bantah perintah guru, apapun itu, saya berusaha memaklumi. Walaupun begitu, saya suka saat mereka begitu terbuka tentang masalah-masalah mereka. Dalam ke Ge eR an saya, saya menganggap mereka telah menjadikan saya sebagai salah satu sahabat mereka.
Meski banyak suka dalam interaksi kami, ada pula duka nya. Seperti halnya permasalahan salah satu anak saya tadi. Si ganteng dan si smily Lubab sepertinya harus dikeluarkan karena permasalahan pribadinya yang pelik. Masih tersisa kenangan kami yang banyak canda saat berbarengan satu bis ke Kragan untuk menyemangati Lubab agar sekolah lagi. Ya allahu ‘alam, jika kami pun tak mampu membangkitkan semangatnya lagi.
Anyway, saya hanya berharap, persahabatan ini akan terus bertahan selamanya. Karena akhir tahun ajaran ini sudah dekat, yang berarti 36 anak “pertama” saya, akan diamanahkan ke wali kelas yang lain tahun depan. Bulan Maret nanti kami berencana piknik bareng ke Gunung Muria. Hm, moga bertambah ya kenangan manis kita. Love u all, guys!
gurunya ikut narsis nih :p
para cowok pemalu
u’ve got punked, feri








Komentar Terakhir